Senin, 13 Oktober 2014

TB Paru Pembunuh NO. 1 Penyakit Menular




TB Paru Pembunuh NO. 1 Penyakit Menular

Tuberculosis (TB) adalah penyakit akibat kuman mycobakterium tuberkulosis sistemis sehingga dapat mengenai semua organ tubuh dengan lokasi terbanyak di paru paru yang biasanya merupakan lokasi infeksi primer (Arif Mansyur, 2000). Tuberculosis paru merupakan penyakit infeksi saluran napas bagian bawah yang menyerang jaringan paru atau atau parenkim paru oleh basil mycobakterium tuberculosis. Tb dapat mengenai hampir semua organ tubuh seperti meningen, ginjal, tulang, dan nodus limfe, dan lain-lain.
TB Paru merupakan masalah kesehatan masyarakat yang penting di dunia. Di negara-negara miskin TB Paru masih merupakan masalah besar. Laporan WHO tahun 2004 menyatakan jumlah terbesar kasus TB Paru terdapat di Asia Tenggara yaitu 33% dari seluruh kasus TB Paru di dunia, tetapi jika dilihat dari jumlah penduduk terdapat 182 per 100.000 penduduk. Di Afrika yang hampir 2 kali lebih besar dari Asia Tenggara yaitu 350 per 100.000 penduduk. Angka mortalitas TB Paru terbesar di Asia Tenggara sebesar 39 per 100.000 penduduk.
Di Indonesia TB Paru merupakan pembunuh nomor satu diantara penyakit menular yang menyebabkan sekitar 100.000 kematian setiap tahunnya dan merupakan penyebab kematian sama seperti penyakit jantung dan penyakit pernapasan akut pada seluruh kalangan usia. Penelitian Merryani Girsang tahun 2002 yang bersumber dari data dari Pencegahan dan Pemberantasan Tuberkulosis (P2TB) Paru menyatakan adanya peningkatan kasus TB Paru setiap tahun di Indonesia. Diperkirakan ada sekitar 450.000 penderita TB Paru dan sekitar 175.000 kematian akibat TB Paru dengan Case Fatality Rate (CFR) sebesar 39%. Data yang diperoleh dari Profil Kesehatan 2005 diperkirakan jumlah kasus TB Paru di Indonesia sebanyak 259.969 kasus dimana 158.640 kasus BTA positif dengan proporsi sebesar 61% dan Angka Penemuan Penderita/Case Detection Rate (CDR) sebesar  53,53 %.
Data dari Profil Kesehatan Indonesia pada tahun 2005 jumlah kasus penyakit TB Paru paling banyak terdapat di Provinsi Jawa Barat sebanyak 48.765 kasus dengan CDR sebesar 69,28%, kasus baru BTA + sebanyak 28.541 kasus dengan proporsi 58,5%.
Ini adalah pertanyaan yang sering muncul, “Apakah TB bisa disembuhkan?” Tentu saja bisa, upaya dan tindakan untuk menyembuhkan TB perlu diadakan diagnosis penyakit terlebih dahulu, seorang dokter akan melakukan pemeriksaan fisik penderita terutama pada bagian paru-paru dan dada. Selanjutnya pemeriksaan dilakukan dengan bantuan foto rontgen pada bagian data, pemeriksaan dahak dan darah penderita dengan test laboratorium, dan pemeriksaan dengan tes tuberculin (mantoux/PPD). Pengobatan infeksi TBC adalah jenis pengobatan penyakit jangka panjang, biasanya lama pengobatan 3 samapai dengan 9 bulan dan penderita harus minum paling sedikit 3 macam obat. Selama pengobatan, penderita (pasien) harus tekun dan disiplin minum obat dan secara rutin melakukan kontrol ke dokter untuk memastikan progres pengobatan hingga pasien dianggap benar-benar sembuh total. Setelah penderita TBC minum obat 2 sampai dengan 3 bulan biasanya gejala-gejala TBC akan hilang dan hal ini yang menjadi faktor penyebab malasnya penderita meminum obat dan melakukan kontrol ke dokter secara rutin.
Jika penderita malas minum obat dan melakukan kontrol akan membuat proses pengobatan TBC menjadi tidak tuntas dan obat-obatan yang digunakan untuk pengobatan menjadi tidak mempan terhadap kuman/bakteri TBC (resisten). Selanjutnya kuman TBC harus diobati dengan obat-obatan lain yang lebih keras dengan harga yang lebih mahal. Pengobatan penyakit TBC jangka panjang biasanya menimbulkan dampak dan efek samping bagi penderita (pasien). Efek samping tersebut biasanya berupa nyeri perut, gangguan penglihatan dan pendengaran, urine yang keluar waktu kencing seperti air kopi, demam tinggi, muntah, timbul gatal-gatal dan warna kemerahan pada kulit, timbul rasa panas pada bagian kaki dan tangan, badan lemas, serta mata dan kulit kuning.

Perbandingan penderita TB Paru pada tahun 2007 dan 2014 di Kota Bandung


Hasil data dari pemantauan pengobatan yang sudah dilakukan didaerah jawa barat, yaitu sudah banyak pasien yang sembuh. Ada yang mencapai 97.06% yaitu diwilayah kabuaten bekasi dan yang masih rendah berada diwilayah kota Bandung.

Jumlah Kasus Penyakit Tb Paru Bta + Di Kota Bandung Tahun 2003 – 2007

Pada tahun 2007 Kota Bandung sempat mengalami penurunan penderita dan sembuh sekitar 87% atau sebesar 858 orang. Walaupun angka ini belum memenuhi target SPM Kota Bandung sebesar 90,00% pada tahun 2007. Mengingat proses penularan penyakit cukup tinggi maka pada tahun 2014 di Kota Bandung mengalami penurunan kembali sekitar 63,75%.
Oleh karenanya penting bagi pasien untuk melakukan kontrol secara rutin dan menyampaikan segala efek samping yang timbul kepada dokter, sehingga dokter dapat memantau progres pengobatan dan menyesuaikan dosis, mengganti obat dengan jenis obat lain bahkan jika diperlukan dokter dapat melakukan pemeriksaan laboratorium lanjutan sampai dengan proses pengobatan penyakit TBC benar-benar tuntas sebagai upaya pencegahan TB agar tidak menular ke orang lain.

Daftar Pustaka

Rabu, 08 Oktober 2014

Puskesmas

A.    Pengertian Puskesmas
      Pusat Kesehatan Masyarakat, disingkat Puskesmas, adalah organisasi fungsional yang menyelenggarakan upaya kesehatan yang bersifat menyeluruh, terpadu, merata, dapat diterima dan terjangkau oleh masyarakat, dengan peran serta aktif masyarakat dan menggunakan hasil pengembangan ilmu pengetahuan dan teknologi tepat guna, dengan biaya yang dapat dipikul oleh pemerintah dan masyarakat. Upaya kesehatan tersebut diselenggarakan dengan menitikberatkan kepada pelayanan untuk masyarakat luas guna mencapai derajad kesehatan yang optimal, tanpa mengabaikan mutu pelayanan kepada perorangan.

B.      Tugas Puskesmas
      Puskesmas merupakan unit pelaksana teknis dinas (UPTD) kesehatan kabupaten / kota yang bertanggungjawab menyelenggarakan pembangunankesehatan disuatu wilayah. Puskesmas sebagai pusat pelayanan kesehatan strata pertama menyelenggarakan kegiatan pelayanan kesehatan tingkat pertama secara menyeluruh, terpadu , dan berkesinambungan, yang meliputi pelayanan kesehatan perorang (private goods) dan pelayanan kesehatan masyarakat (public goods). Puskesmasw melakukan kegiatan-kegiatan termasuk upaya kesehatan masyarakat sebagai bentuk usaha pembangunan kesehatan.
      Puskesmas adalah suatu kesatuan organisasi fungsional yang langsung memberikan pelayanan secara mrnyeluruh kepada masyarakat dalam satu wilayah kerja tertentu dalam bentuk usaha-usaha kesehatan pokok.Jenis pelayan kesehatan disesuaikandengan kemampuan puskesmas, namun terdapat upaya kesehatan wajib yang harus dilaksanakan oleh puskesmas ditambah dengan upaya kesehatan pengembangan yang disesuaikan dengan permasalahan yang ada serta kemampuan puskesmas.
Upaya-upaya kesehatan wajib tersebut adalah ( Basic Six):
a.      Upaya promosi kesehatan
b.      Upaya kesehatan lingkungan
c.      Upaya kesehatan ibu dan anak serta keluarga berencana
d.     Upaya perbaikan gizi masyarakat
e.      Upaya pencegahan dan pemberantasan penyakit menular
f.       Upaya pengobatan Tugas Puskesmas


C.    Fungsi Puskesmas
1.       Puskesmas merupakan pusat penggerak pembangunan berwawasan kesehatan
2.       Puskesmas merupakan pusat pemberdayaan masyarakat
3.       Puskesmas merupakan pusat pelayanan kesehatan strata pertama, yang terdiri atas pelayanan kesehatan individu dan pelayanan kesehatan masyarakat.

D.    Sejarah Perkembangan Puskesmas
Sejarah dan perkembangan puskesmas di Indonesia mulai dari didirikannya berbagai institusi kesehatan seperti balai pengobatan, balai kesejahteraan ibu dan anak, serta diselenggarakannya berbagai upaya-upaya kesehatan seperti usaha hygiene dan sanitasi lingkungan yang masing-masinh berjalan sendiri-sendiri. Pada pertemuan Bandung Plan (1951) dr. J. Leimena mencetuskan pemikiran mengintegrasikan berbagai institusi dan upaya tersebut dibawah satu pimpinan agar lebih efektif dan efisien.
Konsep ini kemudian diadopsi oleh WHO. Konsep pelayanan yang terintegrasi lebih berkembang dengan pembentukan team work dan team approach dalam pelayanan kesehatan (1956). Gagasan ini dirumuskan sebagai konsep pengembangan sistem pelayanan kesehatan tingkat primer dengan membentuk unit-unit organisasi fungsional dari Dinas Kesehatan Kabupaten di setiap kecamatan yang mulai dikembangkan sejak tahun 1969/1970.Penggunaan istilah puskesmas pertama kali dimuat pada Master Plan of Operation for Strenghtening National Health Service in Indonesia Tahun 1969. Dalam dokumen tersebut disebutkan puskesmas terdiri atas 3 tipe puskemas (tipe A, tipe B, tipe Kemudian dalam Rapat Kerja Kesehatan Nasional ke III tahun 1970 menetapkan hanya ada satu tipe puskesmas dengan 6 kegiatan pokok. Perkembangan selanjutnya lebih mengarah pada penambahan kegiatan pokok seiring dengan perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi, kemampuan pemerintah serta keinginan program ditingkat pusat, sehingga kegiatan berkembang menjadi 18 kegiatan pokok, bahkan DKI Jakarta mengembangkan menjadi 21 kegiatan pokok.

D.    Wilayah Kerja Puskesmas
                        Secara nasional, standar wilayah kerja puskesmas adalah satu kecamatan, tetapi apabila di satu kecamatan terdapat lebih dari satu puskesmas, maka tanggung jawab wilayah kerja dibagi antar puskesmas dengan memperhatikan keutuhan konsep wilayah (desa/kelurahan atau RW).Masing-masing puskesmas tersebut secara operasional bertanggung jawab langsung kepada Dinas Kesehatan Kabupaten/Kota.

E.     Struktur Organisasi dan Tata Kerja
            Struktur organisasi puskesmas tergantung dari kegiatan dan beban masing –masing puskesmas. Penyusunan struktur organisasi puskesmas di satu kabupaten/kota dilakukan oleh dinas kesehatan kabupaten/kota, sedangkan penetapannya dilakukan dengan peraturan daerah.
Sebagai acuan dapat dipergunakan pola struktur organisasi puskesmas sebagai berikut:
1)      Kepala puskesmas
2)      Wakil Kepala (disesuaikan beban kerja dan  kebutuhan puskesmas dan yang menetapkan ada atau tidak adalah Dinas Kesehatan Kabupaten dan Kota).
3)      Unit tata usaha
-          Unit tata usaha yang bertanggung jawab membantu kepala puskesmas dalam pengelolaan:
a)      Data dan informasi
b)      Perencanaan dan penilaian
c)      Keuangan
d)     Umum dan kepegawaian
-          Unit pelaksana teknis fungsional puskesmas:
a)       Upaya kesehatan masyarakat termasuk pembinaan terhadap UKBM
b)       Upaya kesehatan perorangan
-          Jaringan pelayanan puskesmas :
a)       Unit puskesmas pembantu
b)       Unit puskesmas keliling
c)       Unit bidan di Desa/Komunitas

F.     Sistem Pencatatan dan Pelayanan Terpadu Puskesmas
1.      Pengertian
Adalah tata cara pencatatan dan pelaporan yang lengkap untuk pengelolaan puskesmas, meliputi keadaan fisik, tenaga sarana dan kegiatan pokok yang dilakukan serta hasil yang dicapai oleh puskesmas.
2.      Tujuan
a) Tersedianya data yang meliputi keadaan fisik, tenaga, sarana dan kegiatan pokok puskesmas secara akurat tepat waktu dan mutakhir
b) Terlaksananya pelaporan data-data secara teratur di berbagai jenjang administrasi sesuai dengan peraturan  yang berlaku
c) Dipergunakan data tersebut untuk pengambilan keputusan dalam rangka pengelolaan program kesehatan masyarakat melalui puskesmas diperbagai tingkat administrasi
3.      Ruang Lingkup
a)      SP2TP dilakukan oleh semua puskesmas termasuk puskesmas Pembantu dan Puskesmas Keliling.
b)      Pencatatan dan pelaporan mencakup :
1)       Data umum dan demografi wilayah kerja puskesmas
2)       Data ketenagaan di puskesmas
3)       Data Sarana yang dimiliki puskesmas
4)       Data kegiatan pokok puskesmas (18 upaya pokok) baik didalam gedung maupun diluar gedung.
4.      Pelaporan dilakukan secara periodik (bulanan,tribulanan,semester dan tahunan)



DISTRIBUSI PUSKESMAS MENURUT JENIS PUSKESMAS
PROVINSI JAWA BARAT 2013

No
Provinsi
Perawat
Non Perawat
Total Puskesmas
1
Bogor
18
83
101
2
Sukabumi
6
52
58
3
Cianjur
8
37
45
4
Bandung
10
52
62
5
Garut
15
50
65
6
Tasikmalaya
15
25
40
7
Ciamis
17
35
52
8
Kuningan
6
31
37
9
Cirebon
8
49
57
10
Majalengka
9
23
32
11
Sumedang
6
26
32
12
Indramayu
9
40
49
13
Subang
8
32
40
14
Purwakarta
1
19
20
15
Karawang
13
37
50
16
Bekasi
9
30
39
17
Bandung Barat
5
26
31
18
Kota Bogor
8
16
24
19
Kota Sukabumi
3
12
15
20
Kota Bandung
5
68
73
21
Kota Cirebon
2
20
22
22
Kota Bekasi
4
27
31
23
Kota Depok
2
30
32
24
Kota Cimahi
0
13
13
25
Kota Tasikmalaya
4
16
20
26
Kota Banjar
2
8
10

Total
193
857
1,050



Daftar Pustaka

http://id.wikipedia.org/wiki/Pusat_Kesehatan_Masyarakat
http://www.bankdata.depkes.go.id/puskesmas/
http://ners.unair.ac.id/materikuliah/PUSKESMAS.pdf
http://wikimedya.blogspot.com/2011/03/defini-fungsi-tujuan-dan-tugas.html
http://diskes.jabarprov.go.id/index.php/subMenu/719